Tetap ‘Srawung’! Cara Siswa SMAN 1 Jogja Jaga Sopan Santun di Dunia Maya

Di tengah gempuran budaya digital yang sering kali melupakan etika, para pelajar di Yogyakarta justru menunjukkan teladan yang kontradiktif namun positif. Siswa secara aktif mengampanyekan pentingnya menjaga nilai luhur dalam berkomunikasi, meskipun interaksi tersebut terjadi di balik layar perangkat pintar. Mereka menerapkan konsep srawung yang dalam budaya Jawa berarti bergaul dengan hangat, namun tetap mengedepankan sopan santun sebagai fondasi utama dalam setiap komentar dan unggahan di media sosial. Gerakan ini muncul sebagai respons atas meningkatnya fenomena perundungan siber yang kerap melanda generasi muda, sehingga sekolah merasa perlu memberikan panduan moral yang lebih kuat bagi para siswanya.

Penerapan adab digital di lingkungan sekolah ini tidak hanya diajarkan sebagai teori di dalam kelas, tetapi juga dipraktikkan melalui sistem pengawasan antar teman yang suportif. Para siswa didorong untuk menjadi pengguna internet yang cerdas dengan selalu memverifikasi informasi sebelum membagikannya dan menggunakan bahasa yang santun saat berdiskusi di grup pesan instan. SMAN 1 Jogja percaya bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan integritas karakter, sehingga profil lulusannya dikenal tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga beradab di dunia maya. Hal ini menciptakan iklim sekolah yang sehat di mana setiap individu merasa dihargai dan aman dari ujaran kebencian yang merusak mentalitas remaja.

Secara teknis, kurikulum lokal yang diterapkan mencakup modul khusus mengenai bagaimana cara menjaga privasi dan menghormati hak orang lain di ruang publik digital. Melalui pendekatan srawung, para siswa diajak untuk melihat bahwa di balik setiap akun media sosial terdapat manusia nyata yang memiliki perasaan, sehingga empati menjadi kunci utama dalam berinteraksi. Inisiatif ini mendapatkan dukungan penuh dari orang tua murid yang merasa terbantu dalam memantau perilaku digital anak-anak mereka di rumah. Dengan menjaga sopan santun, para pelajar ini membuktikan bahwa menjadi modern dan melek teknologi tidak harus membuat seseorang kehilangan jati diri budayanya yang ramah dan penuh hormat. Transformasi perilaku ini menegaskan bahwa kekuatan karakter adalah benteng utama dalam menghadapi tantangan era informasi yang semakin kompleks dan penuh dengan distraksi negatif.