Dunia pendidikan seharusnya berlandaskan pada integritas dan kejujuran. Namun, praktik curang seperti jebakan ‘remedial‘ kini semakin marak. Ada laporan bahwa beberapa oknum guru sengaja membuat siswa gagal dalam ujian, bukan karena ketidakmampuan siswa, melainkan untuk alasan tersembunyi. Tujuan mereka? Menarik biaya bimbingan tambahan atau les privat. Dengan membuat siswa tidak lulus Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), guru dapat menawarkan “solusi” berupa bimbingan di luar jam sekolah. Ini menjadi sumber penghasilan tambahan yang tidak etis. Praktik ini sangat merugikan siswa dan orang tua. Siswa menjadi tertekan dan merasa tidak mampu, padahal sebenarnya mereka sudah menguasai materi. Orang tua pun harus mengeluarkan uang lebih untuk bimbingan yang seharusnya tidak diperlukan.
Jebakan ‘remedial’ ini mengikis kepercayaan siswa terhadap guru dan sistem pendidikan. Mereka mulai mempertanyakan objektivitas penilaian dan niat baik dari pendidik. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang penuh kecurigaan dan tidak sehat. Padahal, fungsi utama remedial adalah untuk membantu siswa yang benar-benar kesulitan. Remedial seharusnya menjadi kesempatan kedua, bukan alat untuk memeras uang. Guru yang berintegritas akan memberikan bimbingan tambahan tanpa imbalan. Penting bagi sekolah untuk melakukan pengawasan ketat terhadap praktik penilaian guru. Harus ada transparansi dalam pemberian nilai dan alasan mengapa siswa harus mengikuti remedial. Kebijakan yang jelas dapat mencegah jebakan ‘remedial’ semacam ini.
Pihak orang tua juga perlu lebih kritis. Jika anak mereka terus-menerus gagal padahal sudah belajar dengan keras, ada baiknya untuk mengkomunikasikannya dengan pihak sekolah. Jangan mudah terperdaya dengan tawaran les pribadi dari guru. Praktik curang seperti ini juga mencoreng profesi guru secara keseluruhan. Sebagian besar guru berdedikasi tinggi, namun ulah segelintir oknum membuat citra guru menjadi buruk di mata masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan jebakan ‘remedial’ yang terperinci dan menyeluruh terhadap praktik-praktik curang ini. Jika terbukti, guru yang bersangkutan harus diberi sanksi tegas. Ini penting untuk mengembalikan integritas dunia pendidikan. Pendidikan adalah investasi masa depan. Jangan biarkan praktik tidak jujur merusak potensi anak-anak kita. Melawan praktik jebakan ‘remedial’ adalah tugas bersama, baik bagi sekolah, orang tua, maupun pemerintah.